budaya
Mengibarkan Haba Aneuk Nanggroe Atjeh (HANA). Diberdayakan oleh Blogger.
NATIJAH
NATIJAH
HUKUM DAN KRIMINAL
HUKUM DAN KRIMINAL
NANGGROE
NANGGROE
atjeh
atjeh
nasional
nasional
SYA'E
clean-5
HADIH MAJA
Home
/
/ Unlabelled
/ Kitab Kuning yang Legendaris
Kitab Kuning yang Legendaris
Posted by: Unknown Posted date: 00.35.00 / comment : 0
Dalam
sistem pembelajaran pondok pesantren Salafiyah, ada metode untuk belajar kitab
kuning. Kitab ini merupakan kitab-kitab berbahasa Arab tanpa harakat atau yang
biasa disebut dengan Arab gundul.
Menurut
pengamat pendidikan Islam dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Abuddin
Nata, di dalam kitab kuning, berisi
tentang tafsir hadis, aqidah, tasawuf, atau akhlak, ilmu kalam, fikih, sejarah,
dan kebudayaan Islam.
Juga
berisi pelajaran bahasa Arab serta turunannya seperti nahwu, sharaf, balaghah,
dan lainnya. Terdapat pula ilmu sastra, cerita, dan hikayat juga dongeng di
dalamnya.
Kitab
tersebut dikenal dengan kitab kuning karena kertas yang digunakan sejak dulu
berwarna kuning. Dulu belum ada jenis kertas berwarna putih seperti sekarang
ini.
Kertas
yang berwarna kuning menjadi pilihan sebagai bahan untuk tulisan kitab-kitab
kajian bagi para santri. Pencetakan kitabnya pun hanya menggunakan alat
sederhana, dengan tata letak tampilan yang monoton dan kaku.
Tak
juga dijilid dengan rapi, tetapi hanya diberikan sampul dengan kertas yang
lebih tebal dan dijilid seadanya. Di masa lalu, kitab kuning ini sudah
terhitung bagus jika dibandingkan harus membaca naskah asli dengan tulisan
tangan.
Keterangan
lain yang diperoleh dari laman salaf.web.id, menyebutkan warna kuning dianggap
lebih nyaman dan mudah dibaca dalam keadaan redup.
Zaman
dulu, saat penerangan masih terbatas, para santri terutama yang ada di
desa-desa biasa membaca kitab dengan pencahayaan seadanya kala malam hari.
Meski
kini penerangan listrik sudah ada, kitab dengan kertas warna kuning ini masih
bertahan, demi melestarikan tradisi. Namun, kini juga tersedia kitab dengan isi
yang sama dengan kitab kuning ini, tetapi dicetak menggunakan kertas HVS warna
putih.
Bahkan,
dengan tampilan digital melalui komputer dengan format pdf. Meski demikian,
harga kitab yang menggunakan kertas berwarna kuning, jauh lebih murah.
Isi
dari kitab kuning adalah hasil karya ilmiah para ulama masa lalu. Salah satunya
adalah kitab fikih, yang merupakan hasil kodifikasi dan istimbath hukum yang
bersumber dari Alquran dan sunah.
Para
santri mempelajari kitab ini dengan bimbingan kiai di pesantren tempatnya
belajar. Kemudian, pemahaman atas kitab tersebut diajarkan kepada masyarakat.
Biasanya, setiap pesantren punya kiai yang ahli pada salah satu kitab kuning.
Misalnya,
Pondok Pesantren Tebu Ireng yang dikenal ahli dalam kitab Hadis Shahih Bukhori.
Meski satu pondok pesantren punya spesialis keahlian, ilmu-ilmu dan kajian yang
lain tetap diajarkan (REPUBLIKA)
Tagged with:
Unknown
This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
Popular Posts
-
Menyusuri Makam Raja JeumpaMengawali sejarah Kabupaten Bireuen, dulunya dikenal wilayah Jeumpa. Baru setelah pemekarannya dengan kabupaten induk yakni Aceh Utara, ...
-
Milad GAM di Aceh Utara Diwarnai Upacara Pengibaran Bendera Bulan BintangLHOKSEUMAWE - Peringatan Milad Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ke 37 di Wilayah Pasee (Aceh Utara), yang digelar di Komplek Makam Sultan Mal...
-
(tanpa judul)Sebagian orang mengatakan, Kerajaan Aru jarang dibicarakan. Alasan mereka, barangkali karena Aru atau Haru kalah pamor dengan kerajaan-...
-
Azab Kubur Dijamin "Merinding" Setelah Mendengar Kesaksian Orang Mati Suri IniMerinding dan menangiskah kalian setelah membaca kisah nyata kesaksian orang mati suri ini? Semoga kisah ini dapat dijadikan pelajaran ba...
-
Komisaris Negara Asal AcehMr. Teuku Muhammad Hasan merupakan salah seorang pendiri Republik Indonesia asal Aceh. Ia memegang berbagai jabatan penting dari ment...
-
Musem Keuneunông Terlupakan Di Aceh UtaraSeiring perkembangan Zaman moderenisasi banyak peninggalan Nenek Moyang (Nek Tu) saat ini tersindir kebelangan. Padahal orang Zaman dahul...