budaya
Mengibarkan Haba Aneuk Nanggroe Atjeh (HANA). Diberdayakan oleh Blogger.
NATIJAH
NATIJAH
HUKUM DAN KRIMINAL
HUKUM DAN KRIMINAL
NANGGROE
NANGGROE
atjeh
atjeh
nasional
nasional
SYA'E
clean-5
HADIH MAJA
Budaya
SEORANG penulis
bernama Kashif Chaudry mengatakan dalam jurnalnya yang dimuat oleh surat kabar
The Huffington Post, Kamis (7/1/2016), jika junjungan umat Islam sedunia, Nabi
Muhammad SAW, ternyata pernah memperingatkan akan kedatangan kelompok Negara
Islam untuk Irak dan Suriah (ISIS). Peringatan itu telah dimuat di berbagai
hadis sahih (yang dipercaya) seperti Bukhari dan Muslim.
Tanda-tanda
ISIS yang disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW pun tak meleset. Termasuk bendera
hitam yang kini menjadi lambang ISIS. Kecermatan rinciannya bakal bikin pembaca
takjub. Pasalnya 1400 tahun lalu Nabi Muhammad mengatakan, “Islam hanya sekedar
agama, Alquran hanya sekedar kitab, masjid-masjid berdiri megah namun tidak
dimakmurkan. Di akhir zaman hakikat Islam akan hilang, sebagian besar hanya
menjalani ritual saja. Para ulama akan korup dan berselisih,” Demikian
ketegasan Nabi Muhammad kala itu.
Kata-kata
Rasulullah nampaknya terbukti. Para pemimpin agama dewasa ini malah
menyalahgunakan mimbar dan berkhotbah menyebarkan kebencian. Selain itu Nabi
Muhammad SAW juga menerangkan soal kedatangan ISIS. Menurut beliau akan datang
sekelompok orang yang mengatas namakan Islam. Dalam HR Muslim disebut, mereka
adalah sekelompok anak muda yang bodoh dan belum memiliki kedewasaan dalam
berpikir.
Mereka akan
mengucapkan komitmen kekejian namun pandai dalam merayu seseorang demi
bergabung dengan mereka. Mereka memanggil orang-orang untuk menegakkan kalimat
Allah SWT lewat Alquran tapi ternyata gak satupun isi kitab suci itu
dikerjakan. “Mereka inilah orang-orang paling buruk dan zalim, bahkan yang
terburuk dari ciptaan Allah SWT,” ujar Nabi Muhammad.
Belum cukup,
dalam buku Al Fitan pada kekhalifahan Sayidina Ali bin Abi Thalib, Nabi
Muhammad SAW pernah mengatakan kepada Ali, orang-orang buruk ini memiliki
rambut panjang dan berbendera hitam. Hati mereka terbuat dari besi dan mereka
akan mengikrarkan diri dalam wilayah kedaulatan. Ini sungguh menarik. Karena
selama ini ISIS mengklaim diri mereka sebagai Negara Islam atau Daulah
Islamiyah.
Dalam Al Fitan
juga disebutkan, kelompok ini tidak pernah menepati perjanjian mereka, tidak
berbicara soal kebenaran, dan … waini, mereka memiliki nama mirip kota-kota.
Yap, pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi, pikiran kita langsung terbayang ke
Kota Baghdad, Irak, waduh!
Dari beberapa
hadis dan referensi ini, ternyata sungguh luar biasa peringatan Nabi Muhammad
SAW pada kaum muslim. Jelas kini, ISIS kelompok penipu yang secara eksplisit
hendak menghancurkan Islam lewat pembunuhan atas nama agama. Mengklaim
mengikuti Alquran namun menyebarkan anarki di seluruh dunia. ISIS bukan Islam!
Dan,
satu-satunya orang yang menolak merenungi kata-kata Nabi Muhammad SAW ini
adalah ISIS, simpatisan ISIS, dan ekstremis anti-Islam yang teguh mempercayai
ISIS adalah Islam. Sementara mereka yang cerdas bisa melihat kebijaksanaan Nabi
Muhammad SAW dan keindahan Islam sebagai agama ‘rahmatan lil alamin’ alias
rahmat bagi seluruh alam.
Benarkah pulau
Sumatra telah dikenal oleh Rasulullah SAW semasa hidup, serta telah dilalui dan
disinggahi para pedagang dan pelaut Arab di masa itu? Pernyataan ini
diungkap Prof. Dr. Muhammad Syed Naquib
al-Attas di buku terbarunya “Historical Fact and Fiction”
yang di seminarkan November 2011 lalu.
Syed
Muhammad al Naquib al Attas lahir di Bogor, 5 September 1931 adalah seorang
cendekiawan dan filsuf muslim saat ini dari Malaysia. Ia menguasai teologi,
filsafat, metafisika, sejarah, dan literatur.
Ia juga menulis berbagai buku di bidang
pemikiran dan peradaban Islam, khususnya tentang sufisme, kosmologi, filsafat,
dan literatur Malaysia.
Sumber
Wikipedia menyebutkan, tahun 1962 Al-Attas menyelesaikan studi pasca sarjana
di Institute of Islamic Studies di McGill University,
Montreal, Kanada, dengan thesis Raniri and the Wujudiyyah of
17th Century Acheh.
Al-Attas
kemudian melanjutkan studi ke School of Oriental and African
Studies, University of London di bawah bimbingan Professor A. J.
Arberry dari Cambridge dan Dr. Martin Lings. Thesis doktornya (1962) adalah
studi tentang dunia mistik Hamzah Fansuri.
Pada
1987, Al-Attas mendirikan sebuah institusi pendidikan tinggi bernama International Institute of Islamic Thought and Civilization
(ISTAC) di Kuala Lumpur. Melalui institusi ini Al-Attas bersama
sejumlah kolega dan mahasiswanya melakukan kajian dan penelitian mengenai
Pemikiran dan Peradaban Islam, ia terkenal kritis terhadap Peradaban Barat.
Kesimpulan Al-Attas ini
berdasarkan inductive methode of reasoning.
Metode ini, ungkap al-Attas, bisa digunakan para pengkaji sejarah ketika
sumber-sumber sejarah yang tersedia dalam jumlah yang sedikit atau sulit
ditemukan, lebih khusus lagi sumber-sumber sejarah Islam dan penyebaran Islam
di Nusantara memang kurang. Ada dua fakta yang al-Attas gunakan untuk sampai
pada kesimpulan di atas.
Pertama, bukti sejarah Hikayat Raja-Raja Pasai yang di dalamnya terdapat sebuah
hadits yang menyebutkan Rasulullah saw menyuruh para sahabat untuk berdakwah di
suatu tempat bernama Samudra, yang akan terjadi tidak lama lagi di kemudian
hari. Hikayat Raja-raja Pasai antara lain menyebutkan sebagai berikut“Pada zaman Nabi Muhammad Rasul
Allah salla’llahu ‘alaihi wassalama tatkala lagi hajat hadhrat yang maha mulia
itu, maka sabda ia pada sahabat baginda di Mekkah, demikian sabda baginda: “Bahwa sepeninggalku ada sebuah negeri di atas angin
Samudera namanya. Apabila ada didengar khabar negeri itu maka kami suruh engkau
(sediakan) sebuah kapal membawa perkakas dan kamu bawa orang dalam negeri (itu)
masuk Islam serta mengucapkan dua kalimah syahadat. Syahdan, (lagi) akan
dijadikan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam negeri itu terbanyak daripada segala
Wali Allah jadi dalam negeri itu”
Dasarnya
tentu sangat kuat baik secara teologis maupun secara antropologis. Menurutnya,
Hamzah Fansuri, Nurruddin Ar-Raniry, Syamsuddin As-Sumatrani, Syech Abdurrauf
As-singkili yang terkenal dengan nama Syeikh di Kuala atau Syiah Kuala adalah
sekian diantara ulama besar Aceh yang pernah ada di zaman keemasan kesultanan
Pasai dan Kerajaan Aceh Darussalam
Bahkan,
sekian diantara Wali Songo memiliki garis hubungan pendidikan atau lulusan
(alumni) yang berguru di Samudera Pasai sebagai pusat peradaban Islam Asia
tenggara kala itu. Bahkan beberapa diantaranya ada yang memiliki hubungan
keturunan dengan Aceh penyebar Islam di tanah Jawa.
Sumber
wikipedia menyebutkan, bahwa asal-usul penamaan pulau "Sumatra"
sendiri berasal dari keberadaaan sebuah kerajaan benama Samudera Pasai (terletak di pantai pesisir timur
Aceh). Diawali dengan kunjungan Ibnu
Batutah, petualang asal Maroko ke negeri tersebut pada tahun 1345, dia
melafalkan kata Samudera menjadi Samatrah, dan kemudian menjadi Sumatra atau Sumatera,
selanjutnya nama ini tercantum dalam peta-peta abad ke-16 buatan Portugis,
untuk dirujuk pada pulau ini, sehingga kemudian dikenal meluas sampai sekarang. (Nicholaas Johannes Krom, De Naam Sumatra, BKI, 100, 1941.)
Kedua, berupa terma “kāfūr” yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Kata ini berasal
dari kata dasar “kafara” yang berarti menutupi. Kata “kāfūr” juga merupakan
nama yang digunakan bangsa Arab untuk menyebut sebuah produk alam yang dalam
Bahasa Inggris disebut camphor, atau dalam Bahasa Melayu disebut dengan kapur
barus.
Masyarakat
Arab menyebutnya dengan nama tersebut karena bahan produk tersebut tertutup dan
tersembunyi di dalam batang pohon kapur barus/pohon karas (cinnamomum camphora)
dan juga karena “menutupi” bau jenazah sebelum dikubur.
Produk kapur barus yang terbaik adalah dari Fansur (Barus) sebuah kecamatan
di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, yang terletak di pantai barat
Sumatra.
Dengan
demikian tidak diragukan wilayah Nusantara lebih khusus lagi Sumatra telah
dikenal oleh Rasulullah dari para pedagang dan pelaut yang kembali dengan
membawa produk-produk dari wilayah tersebut (pasai) dan dari laporan tentang
apa yang telah mereka lihat dan dengar tentang tempat-tempat yang telah mereka
singgahi.
Menurut berita-berita luar yang juga diceritakan dalam Hikayat Raja-raja Pasai (Pase) kerajaan ini letaknya di kawasan Selat Melaka pada jalur hubungan laut yang ramai antara dunia Arab, India dan Cina. Disebutkan pula bahwa kerajaan ini pada abad ke XIII sudah terkenal sebagai pusat perdagangan di kawasan itu.
Menurut berita-berita luar yang juga diceritakan dalam Hikayat Raja-raja Pasai (Pase) kerajaan ini letaknya di kawasan Selat Melaka pada jalur hubungan laut yang ramai antara dunia Arab, India dan Cina. Disebutkan pula bahwa kerajaan ini pada abad ke XIII sudah terkenal sebagai pusat perdagangan di kawasan itu.
Kembali
menurut Al-Attas, ia menyebutkan, ada empat faktor penyebab minimnya sumber dan
kajian sejarah Islam dan sejarah penyebaran Islam di Nusantara.
Pertama, sumber
dan karya ilmiah sejarah Islam yang ditulis dalam huruf Jawi/Pego (Arab latin)
oleh masyarakat Nusantara tidak begitu terkenal di kalangan ilmuwan Barat
karena tidak banyak dari mereka yang pandai membaca tulisan Jawi.
Kedua, banyak sumber sejarah yang hilang atau
tidak diketahui keberadaannya pada zaman penjajahan. Ketiga, biasanya sumber-sumber sejarah
yang ditulis masyarakat Nusantara dianggap oleh orientalis sebagai artifak
sastra, sebagai karya dongeng atau legenda, yang hanya bisa dipelajari dari
sudut filologi atau linguistik, dan tidak bisa diterima sebagai sumber sejarah
yang sempurna dan benar.
Keempat, karena minimnya sumber dan kajian
sejarah Islam Nusantara membuat para ilmuwan Barat hanya menggunakan sumber,
kajian dan tulisan dari luar Nusantara termasuk dari Barat. Mereka tidak
memperhatikan atau mungkin tidak tahu adanya bahan-bahan dan informasi yang
terdapat dalam berbagai sumber sejarah Islam termasuk sumber-sumber sejarah
dari wilayah Nusantara.
Prof.
Dr. Abdul Rahman Tang, Akademis dan dosen pasca sarjana di Departemen Sejarah
dan Peradaban, Kulliyyah of Islamic Revealed Knowledge and
Human Sciences di International Islamic University Malaysia,
selaku pembanding menyatakan kajian sejarah Islam Nusantara yang dilakukan
al-Attas dalam buku tersebut sebagian besar bersifat spekulatif.
Salah satu fakta spekulatif
tersebut adalah hadits yang terdapat dalam Hikayat Raja Raja Pasai. Menurutnya,
fakta-fakta tersebut bisa valid jika telah menjalani proses “verification of
fact”. Namun Al-Attas tidak melakukan proses ini terhadap hadits yang
disebutkan di dalam hikayat raja-raja pasai tersebut.
Muslim
China warga Malaysia ini mempertanyakan tentang hadits ini dan mengkhwatirkan
implikasinya terhadap pemikiran masyarakat Nusantara. Menurutnya, al-Attas
melakukan inductive methode of reasoning secara tidak konstruktif. Sedang
Dr. Syamsuddin Arif, dosen IIUM asal Jakarta, selaku pembicara kedua dalam
acara bedah buku tersebut mengungkapkan kesimpulan al-Attas di atas logis dan
sesuai dengan fakta.
i berdasarkan prjalanan pelaut dan pedagang Arab pada masa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang pergi ke
China. Untuk mencapai negeri China melalui laut tak ada rute lain kecuali
melalui dan singgah wilayah Nusantara.
Lebih
lanjut Arif mengemukakan berbagai teori dan pendapat tentang kapan, dari mana,
oleh siapa, dan untuk apa penyebaran Islam di Nusantara beserta bukti-bukti dan
fakta-fakta yang digunakan untuk mendukung pendapat-pendapat tersebut. Arif
juga menjelaskan ilmuwan siapa saja yang memegang dan yang menentang
pendapat-pendapat tersebut.
Di
akhir makalahnya, Arif mempertanyakan pendapat J.C. Van Leur yang pertama kali
menyatakan bahwa penyebaran Islam di Nusantara dimotivasi oleh kepentingan
ekonomi dan politik para pelakunya.
Van
Leur dalam bukunya “Indonesian Trade and Society”
berpendapat, sejalan dengan melemahnya kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di
Sumatera dan khususnya di Jawa, para pedagang Muslim beserta muballigh lebih
berkesempatan mendapatkan keuntungan dagang dan politik.
Dia
juga menyimpulan adanya hubungan saling menguntungkan antara para pedagang
Muslim dan para penguasa lokal. Pihak yang satu memberikan bantuan dan dukungan
materiil, dan pihak kedua memberikan kebebasan dan perlindungan kepada pihak
pertama.
Menurutnya,
dengan adanya konflik antara keluarga bangsawan dengan penguasa Majapahit serta
ambisi sebagian dari mereka untuk berkuasa, maka islamisasi merupakan alat
politik yang ampuh untuk merebut pengaruh hingga menghimpun kekuataan.
Menurut
catatan M. Yunus Jamil, bahwa
pejabat-pejabat Kerajaan Islam Samudera Pasai terdiri dari orang-orang alim dan
bijaksana. Adapun nama-nama dan jabatan-jabatan mereka adalah sebagai berikut, Seri
Kaya Saiyid Ghiyasyuddin, sebagai Perdana Menteri. Saiyid Ali bin Ali Al
Makaarani, sebagai Syaikhul Islam. Bawa Kayu Ali Hisamuddin Al Malabari,
sebagai Menteri Luar Negeri.
Dari
catatan-catatan, nama-nama dan lembaga-lembaga seperti tersebut di atas, Prof.
A. Hasjmy berkesimpulan bahwa, sistem pemerintahan dalam Kerajaan Islam
Samudera Pasai sudah teratur baik, dan berpola sama dengan sistem pemerintahan
Daulah Abbasiyah di bawah Sultan Jalaluddin Daulah (416-435 H).
Nama
Samudera dan Pasai sudah populer disebut-sebut baik oleh sumber-sumber Cina,
Arab dan Barat maupun oleh sumber-sumber dalam negeri seperti Negara Kertagama
(karya Mpu Prapanca, 1365) pada abad ke 13 dan ke-14 Masehi. Dan tentang asal
usul nama kerajaan ini ada berbagai pendapat.
Menurut
J.L. Moens, kata Pasai berasal
dari istilah Parsi yang
diucapkan menurut logat setempat sebagai Pa’Se. Dengan catatan bahwa sudah
semenjak abad ke VII M, saudagar-saudagar bangsa Arab dan Parsi sudah datang
berdagang dan berkediaman di daerah yang kemudian terkenal sebagai Kerajaan
Islam Samudera Pasai.
Mohammad Said, salah seorang wartawan dan cendikiawan
Indonesia pengarang buku ACEH SEPANJANG ABAD yang
berkecimpung dengan penelitiannya tentang kerajaan ini dan kerajaan Aceh, dalam
prasarannya yang berjudul “Mentjari Kepastian Tentang
Daerah Mula dan Cara Masuknya Agama Islam ke Indonesia",
berkesimpulan bahwa istilah PO SE yang populer digunakan pada pertengahan abad
ke VIII M seperti terdapat dalam laporan-laporan Cina, adalah identik atau
mirip sekali dengan Pase atau Pasai.
Pendapat
ini adalah sesuai dengan apa yang telah dikemukakan oleh Prof. Gabriel Ferrand
dalam karyanya (L’Empire, 1922, hal.52-162), dan
pendapat Prof. Paul Wheatley dalam (The Golden Khersonese,
1961, hal.216), yang didasarkan pada keterangan para musafir Arab tentang Asia
Tenggara. Kedua sarjana ini menyebutkan bahwa sudah sejak abad ke-7 Masehi,
pelabuhan-pelabuhan yang terkenal di Asia Tenggara pada masa itu, telah ramai
dikunjungi oleh para pedagang dan musafir-musafir Arab. Bahkan pada setiap
kota-kota dagang itu telah terdapat fondachi-fondachi atau
permukiman-permukiman dari pedagang-pedagang yang beragama Islam. Wallahu'alam bissawab.(Sumber
INFO DUNIA ISLAM).
Oktober 2013
sewaktu terjadi banjir di Madinah, makam 70 orang keluarga Perang Uhud ikut
dilanda banjir. Setelah banjir surut, jenasah para sahabat-pun akhirnya
terlihat keluar dalam keadaan masih utuh karena mereka dikuburkan di kawasan
padang pasir, darahnya masih mengalir harum.
Jenasah para
sahabat dimakamkan kembali seperti semula tapi tidak lagi diberi nama-nama
jenasah tersebut kecuali jenasah Hamzah
ra karena diketahui dari luka didadanya, badannya tinggi besar. Jenasahnya
masih berdarah dan harum. Bahkan tangannya masih memegang lukanya akibat
terkena tombak, yang masih keluar darah. Walaupun sudah beberapa ribu tahun.
Dan yang
satu lagi adalah Abdullah bin Jaz ra karena diketahui dari telinga dan
hidungnya yang terpotong akibat diikat benang. Kedua orang inilah yang sekarang
nisannya ada di Uhud. Jadi kalau sekarang kita berziarah ke Gunung Uhud, hanya
ada 2 nisan saja.
Berikut
adalah sebagian isi dari kaset pembicaraan Dr Thariq As-Suwaidan tentang
peristiwa tersebut. “Syaikh Mahmud Ash-Shawaf telah menyampaikan kepada kami
bahwa dia adalah salah seorang yang diundang dari kalangan ulama besar untuk
pemakaman semula para sahabat yang gugur syahid di perang Uhud di kompleks
makam syuhada Uhud yaitu sebuah kawasan pemakaman yang terkenal.
Sebuah
“Kesaksian” Dr Thariq As-Suwaidan dalam kasetnya yang amat berharga “Qisshatun
Nihayah” yang dinukil secara langsung dari Syaikh Mahmud Ash-Shawaf menyebutkan
peristiwa besar yang dialami oleh sebagian ulama saat penguburan kembali
jenasah sahabat yang gugur syahid di perang Uhud. Setelah 1400 tahun jenasah
para sahabat tetap utuh, ini sebagai bukti nyata atas berita gembira tentang
para syuhada.
Para ulama
memang diundang saat pemakaman kembali jenasah para sahabat itu ”Di antara
orang yang aku kuburkan adalah Hamzah RA, badannya besar, kedua telinga dan
hidungnya terpotong, perutnya terbelah, dia meletakkan tangannya di atas
perutnya.
Ketika kami
menggerakkannya dan mengangkat tangannya, darahnya mengalir. Aku menguburkannya
bersama sahabat-sahabat lainnya yang gugur syahid di Uhud.” Dr Thariq
As-suwaidan berkata, ”Ini adalah perkara yang terbukti secara mutawatir dan
dengan mata kepala. Semoga Alloh SWT menyampaikan kita semua ke derajat para
syuhada.
Syaikh
Mahmud telah menyampaikan kepada kami tentang aroma harum misk yang berasal
darinya ketika darah mengalir dari jasad Hamzah RA.” Subhanallah, setelah 1400
tahun lebih, betapa agungnya Engkau ya Allah. Alangkah besarnya kekuasaan-Mu,
Maha suci Engkau.
Betapa
utamanya, betapa mulianya, Alloh memberikannya kepada para syuhada. Jika
seperti itu kemuliaan jasadnya yang terpendam di perut bumi yang tak seorangpun
melihatnya, lalu bagaimanakah dengan kemuliannya di surga yang luasnya seluas
langit dan bumi.
Selamat bagi
yang telah melihat sahabat mulia ini, Hamzah bin Abdul Mutthalib ra. Jasad
Syuhada Yang Tidak Mengalami Pembusukkan Jabir bin Abdillah bercerita,
”Menjelang perang Uhud, ayahku memanggilku pada malam hari. Ia berkata: ’Aku
merasa akan menjadi orang yang paling pertama gugur di antara para sahabat Nabi
Saw.
Sungguh aku
tidak meninggalkan sesuatupun yang lebih kusayangi selain engkau, disamping
Nabi Muhammad Saw. Sesungguhnya aku memiliki hutang, maka lunasilah. Dan
bersikap baiklah kepada saudara-saudara perempuanmu.’ Keesokan harinya, ia pun
menjadi orang yang pertama gugur.
Ia
dimakamkan bersama orang yang lain dalam satu lubang kubur. Tetapi hatiku
merasa kurang nyaman membiarkan ayahku satu lubang kubur bersama orang lain.
Enam bulan kemudian, aku membongkar makamnya dan mengeluarkannya, jasadnya
masih tetap utuh sama seperti pertama kali aku menguburkannya.” (Hadits Riwayat
Bukhari, Fathul Bari, 3/214 )
Petikan
hadits di atas membuktikan di mana ayah Jabir ra terbunuh dalam perang Uhud dan
ketika enam bulan kemudian makamnya dibongkar, maka jasadnya tetap utuh. Enam
bulan adalah waktu yang lama di mana tubuh mayat seharusnya sudah hancur.
Penelitian
membuktikan bahwa 24-36 jam pertama mayat dikuburkan, maka bola mata mulai
menonjol dan kornea menghitam. Cabang-cabang urat nadi mulai terlihat di perut
dan dada. 2-5 hari berikutnya, wajah dan seluruh tubuh menggelembung, dari
tubuh mayat keluar bau busuk. Setelah melewati 5-10 hari, kulit mulai rapuh dan
tubuh ditutupi larva.
Organ-organ
tubuh meleleh ke tanah dan mulai menyisakan tulang saja. (dinukil dari buku
Ushuluth Thibbisy Syar’i, Dr. Muhammad Ahmad Sulaiman). (palingkeren.net)
Pertama,
Ketika masih bujangan beberapa tahun yang lalu, saya pernah membaca fatwa
seorang ulama disebuah majalah islam, namanya Syaikh Ali Hasan Al-Halaby
hafizhohulloh tentang hukum oral seks dalam pandangan islam, hal yang masih
saya ingat adalah jawaban beliau. Bahwa mulut dan lidah adalah tempat beribadah
baik berupa dzikir, doa, membaca al-qur’an dan beramar ma’ruf nahi mungkar.
Sedangkan kemaluan adalah tempat keluarnya najis seperti air kencing dan madzi.
Dan tidak sepantasnya hal yang tempat yang mengeluarkan yang baik (mulut)
bercampur dengan tempat yang mengeluarkan yang buruk (kemaluan). Intinya beliau
menjawab akan keharaman oral seks.
Kedua, saya
mendapatkan dari internet beberapa hari yang lalu yang berasal dari majalah
juga, fatwa dari beberapa ulama lainnya yang mengharamkan oral seks yang
dikumpulkan oleh Syaikh Al-’Allämah Ahmad bin Yahyä An-Najmï rahimahulläh:
Pertanyaan: Apa hukum oral seks?Jawabannya:
Mufti Saudi
Arabia bagian Selatan, Asy-Syaikh Al-Allämah Ahmad bin Yahyä An-Najmï
hafizhahulläh menjawab sebagai berikut, “Adapun isapan istri terhadap kemaluan
suaminya (oral sex), maka ini adalah haram, tidak dibolehkan. Karena ia
(kemaluan suami) dapat memencar. Kalau memencar maka akan keluar darinya air
madzy yang dia najis menurut kesepakatan (ulama’). Apabila (air madzy itu)
masuk ke dalam mulutnya lalu ke perutnya maka boleh jadi akan menyebabkan
penyakit baginya. Dan Syaikh Ibnu Bäz rahimahulläh telah berfatwa tentang
haramnya hal tersebut -sebagaimana yang saya dengarkan langsung dari beliau-.”
Muhaddits
dan Mujaddid zaman ini, Asy-Syaikh Al-’Allämah Muhammad Näshiruddïn Al-Albäny
rahimahulläh menjawab: “Ini adalah perbuatan sebagian binatang, seperti anjing.
Dan kita punya dasar umum bahwa dalam banyak hadits, Ar-Rasül melarang untuk
tasyabbuh (menyerupai) hewan-hewan, seperti larangan beliau turun (sujud)
seperti turunnya onta, dan menoleh seperti tolehan srigala, dan mematuk seperti
patukan burung gagak. Dan telah dimaklumi pula bahwa Nabi shallallähu ‘alaihi
wa sallam telah melarang untuk tasyabbuh dengan orang kafir, maka diambil juga
dari makna larangan tersebut pelarangan tasyabbuh dengan hewan-hewan -sebagai
penguat yang telah lalu-, apalagi hewan yang telah diketahui kejelekan
tabiatnya. Maka seharusnya seorang muslim -dan keadaannya seperti ini- merasa
tinggi untuk menyerupai hewan-hewan.”
3. Salah
seorang ulama besar kota Madinah, Asy-Syaikh Al-’Allämah ‘Ubaid bin ‘Abdilläh
bin Sulaimän Al-Jäbiry hafizhahulläh menjawab: “Ini adalah haram, karena ia
termasuk tasyabbuh dengan hewan-hewan. Namun banyak di kalangan kaum muslimin
yang tertimpa oleh perkara-perkara yang rendah lagi ganjil menurut syari’at,
akal dan fitrah seperti ini. Hal tersebut karena ia menghabiskan waktunya untuk
mengikuti rangkaian film-film porno melalui video atau televisi yang rusak.
Seorang lelaki muslim berkewajiban untuk menghormati istrinya dan jangan ia
berhubungan dengannya kecuali sesuai dengan perintah Allah. Kalau ia
berhubungan dengannya selain dari tempat yang Allah halalkan baginya maka
tergolong melampaui batas dan bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya shallallähu
‘alaihi wa sallam.”
(Dinukil
dari Majalah An-Nashihah, vol. 10/1427H/2006M, judul: Hukum “Oral Sex”, hal. 3.
Dicopy dari http://www.darussalaf.org/stories.php?id=276)
Inilah
jawaban para ulama yang dalam pengetahuannya tentang agama islam yang lurus
ini, para ulama yang tidak mengikuti hawa nafsu. Bukakankah kita disuruh untuk
bertanya kepada ulama, Alloh berfirman ” Tanyakanlah kepada ahli Ilmu jika
kalian tidak mengetahui”
Untuk
jawaban no.1 memang benar pria yang terangsang maka penis atau kemaluannya akan
mengalami ereksi dan apabila terus terangsang lama-kelamaan akan mengeluarkan
madzi, (cairan bening yang lengket yang keluar ketika muncul syahwat) begitupun
wanita yang terangsang, vaginanya akan keluar madzi. Dan apabila seorang istri
mengulum penis suaminya maka mulut istrinya akan terkena air madzi suaminya.
Begitupun seorang suami yang menjilati vagina istrinya makan mulutnya akan
terkena madzi istrinya. Ini adalah suatu realita, baik mereka menyadarinya
ataupun tidak saat madzi keluar. Dan Madzi adalah najis. Seorang muslim
harusnya merasa jijik dengan najis. Dan harusnya membersihkan dirinya dari
najis. Tapi orang-orang yang melampaui batas dari kalangan pelaku oral seks,
yang memperturukan hawa nafsunya, mereka malah meminumnya/menelannya. Padahal
berobat dengan memakan atau meminum najis itu diharamkan dalam agama islam yang
hanif ini.
Untuk
jawaban no. 2 Tasyabuh dengan binatang. Saya tidak tahu apakah anjing melakukan
oral seks? Tetapi saya tahu kalau dikampung, kalau orang-orang sedang
mengawinkan domba, maka saya melihat domba jantan akan mencium dan menjilat
vagina domba betina. Tujuannya adalah untuk merangsang/menimbulkan birahi dan
syahwat. Dan bukankah salah satu tujuan oral seks juga seperti itu?. Manusia
memang berbeda dengan hewan. Manusia mempunyai fitroh, nilai dasar, adab dan
rasa jijik. Sedangkan hewan tidak memilikinya. Seorang muslim juga berbeda
dengan orang kafir dan orang barat. Islam yang sempurna mengatur segala urusan
manusia, tata cara buang air dan tata cara bersetubuh juga diatur dalam islam.
Sedangkan agama lain tidak.
Untuk
jawaban no.3 benar sekali, oral seks adalah suatu yanga rendah lagi ganjil
menurut syari’at, akal dan fitrah manusia. Penis seorang suami tempatnya adalah
di vagina istrinya, jika ditempatkan di mulut maka ini adalah sesuatu yang aneh
dan ganjil. Mulut yang digunakan untuk membaca qur’an dan berdzikir (beribadah)
lalu digunakan untuk oral seks yang mengeluarkan najis maka ini adalah sesuatu
yang rendah. Akal dan fitrah manusia yang belum rusak pun akan merasa jijik
dengan oral seks. Oral seks masuk ditengah-tengah kaum muslimin tentunya karena
beredarnya film dan video porno, acara televisi yang rusak, novel atau cerpen
jorok yang semuanya berkiblat dari orang barat dan orang kafir. Seorang suami
harus memuliakan dan menghormati istrinya, dan seorang istri juga harus
memuliakan suaminya, diantaranya dengan menempatkan kemaluannya ditempat yang
Alloh dan rosulnya perintahkan yaitu kemaluan pasangannya. Apabila menempatkan
kemaluan pada selain dari tempat yang Allah halalkan baginya maka tergolong
perbuatan yang melampaui batas dan maksiat.
Ketiga:Melakukan
hubungan Seks dengan istri atau suami kita adalah halal dan bernilai ibadah.
Sedangkan Orang yang melakukan oral seks adalah haram dan bernilai maksiat.
Bukankah Alloh azza wa jalla berfirman “Dan janganlah kamu campur adukkan yang
hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu , sedang
kamu mengetahui” (QS.al-Baqarah:42)..
Lambang
negara Indonesia ini meniru lambang Kerajaan Samudera Pasai yang duluan eksis. Kesultanan
Pasai, juga dikenal dengan Samudera Darussalam, atau Samudera Pasai, adalah
kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatera, kurang lebih di
sekitar Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, Provinsi Aceh,
Jangan
salah duga dua lukisan di atas sekilas mirip. Namun kalau diperhatikan detil
sangat berbeda. Keduanya juga merupakan lambang dua negara yang berbeda. Yang
pertama Garuda Pancasila lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan yang
kedua lambang Kerajaan Samudera Pasai.
Asal
muasal penggunaan lambang Garuda Pancasila sebagai lambang negara adalah
bermula saat Sultan Abdurrahman Hamid Alkadrie II (Sultan Hamid II) memenangi
sayembara lambang negara. Sayembara ini diadakan oleh Presiden Soekarno.
Sebelumnya ada usulan lambang negara yang diajukan oleh M. Yamin namun ditolak
oleh panitia karena masih ada pengaruh Jepang melalui penempatan sinar
matahari.
Sejak
Indonesia merdeka pada tahun 1945, baru pada tahun 1950 kita memiliki lambang
negara. Jadi selama lima tahun itu Indonesia nirlambang negara. Garuda
Pancasila ditetapkan sebagai lambang Negara RI pada 11 Februari 1950 yang dituangkan
dalam Peraturan Pemerintah No 66 Tahun 1951.
Lalu
Presiden Soekarno memperkenalkan lambang itu kepada masyarakat pada 15 Februari
1950 di Hotel Des Indes Jakarta. Sebelumnya Garuda juga sudah menjadi lambang
kerajaan atau stempel kerajaan di Jawa seperti Kerajaan Airlangga.
Lambang
Kerajaan Islam Samudera Pasai
Sebelum
digunakan secara resmi sebagai lambaga negara RI, Garuda juga sudah dipakai
sebagai lambang Kerajaan Samudera Pasai yang dulu kala berpusat di Aceh Utara.
Kerajaan Samudera Pasai didirikan oleh Sultan Malikussaleh (Meurah Silu) pada
abad ke 13 atau pada 1267. Seorang petualang Ibnu Batuthah dalam bukunya Tuhfat
al-Nazha menuturkan Samudera Pasai sudah menjadi pusat studi Islam di kawasan
Asia Tenggara.
Siapa
sebenarnya yang merancang lambang Kerajaan Samudera Pasai? “Lambang Kerajaan
Samudera Pasai dirancang oleh Sultan Samudera Pasai Sultan Zainal Abidin.
Lambang burung itu bermakna syiar agama yang luas, berani dan bijaksana,” sebut
R Indra S Attahashi Sabtu (6/10).
Indra
menjelaskan, lambang negara Samudera Pasai berisi kalimat Tauhid dan Rukun
Islam. Rinciannya, kepala burung itu bermakna Basmallah, sayap dan kakinya
merupakan ucapan dua kalimat Syahadat. Terakhir, badan burung itu merupakan
Rukun Islam.
Pria
kelahiran 1974 itu menjelaskan lambang itu disalin ulang oleh Teuku Raja Muluk
Attahashi bin bin Teuku Cik Ismail Siddik Attahashi yang merupakan Sultan Muda
Aceh yang diangkat pasca peristiwa Perang Cumbok pada 1945. Ketika itu di Aceh
Tamiang ada kerajaan sendiri bernama Kerajaan Sungai Iyu
“Bisa
saja disebut, lambang negara Indonesia ini meniru lambang Kerajaan Samudera
Pasai yang duluan eksis sebelum kaum Nasionalis Marhaenisme merancang NKRI,”
ungkap Indra yang juga generasi ketujuh dari Kerajaan Sungai Iyu. Indra
menjelaskan, lambang Kerajaan Samudera Pasai itu sudah ada dalam silsilah
keluarganya lebih dari 100 tahun lalu. Dari kakek atau nenek, lambang itu
diwariskan dari generasi ke generasi yang selalu dikisahkan bahwa itu lambang
Kerajaan Samudera Pasai.
Disebutkan,
asal-usul pendiri Kerajaan Samudera Pasai berasal dari keturunan Turki yakni Al
Ghazy Syarif Attahashi yang merupakan panglima memimpin utusan Dinasti
Usmaniyah (Ottoman) yang membantu Aceh menghadapi serangan Portugis. Kemudian
panglima ketujuh itu menikah dengan seorang putri Sultan Iskandar Muda.
Perihal
lambang Negara Indonesia yang mirip dengan lambang Kerajaan Samudera Pasai juga
dituturkan oleh Ibrahim Qamarius dosen Universitas Malikussaleh Aceh Utara.
Setelah digelar seminar International Conference and Seminar “Malikussaleh;
Past, Present and Future di Aceh Utara pada 11-12 Juli 2011, masyarakat
mengirim lambang Kerajaan Samudera Pasai yang merupakan replika.
Lambang
itu dilukis oleh Teuku Raja Muluk Attahashi, keturunan dari panglima Turki
Utsmani yang ke Aceh ketika Sultan Iskandar Muda menghadapi Portugis, pimpinan
dari Panglima Tujuh Syarif Attahashi.
Ibrahim
menjelaskan, walaupun lambang Indonesia mirip dengan Kerajaan Samudera Pasai
belum bisa dipastikan Indonesia meniru dari Samudera Pasai. Menurutnya, perlu
pengkajian lebih lanjut
“Panitia
melakukan pengkajian konprehensif mengenai lambang atau gambar tersebut dan
kemungkinan dibahas pada International Conference and Seminar Malikussaleh
kedua pada 2013,” ungkap Ibrahim yang mantan ketua panitia konferensi itu
kepada Beritasatu.com, Sabtu (6/10).
Terlepas
dari klaim inspirasi Garuda dari lambang Kerajaan Samudera Pasai, sejarawan
LIPI Aswi Warman Adam menegaskan kalau klaim itu menunjukkan kecintaan bangsa
Indonesia. “Ini bukanlah sebuah klaim yang menjurus ke arah negatif. Ini
merupakan sebuah bentuk kecintaan bangsa Indonesia, yang dulu saat proses
pemilihan lambang negara memang ikut terlibat,” kata Asvi. (beritasatu)
Beberapa
waktu lalu di media sosial beredar nama-nama sejumlah pendeta yang dituding
berasa dari Aceh, khususnya dari kabupaten Pidie. Selain itu sejumlah warga
Aceh dituding telah murtad (keluar dari Islam).
Hasil
penelusuran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) provinsi Aceh, ternyata data
tersebut palsu dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Hal
demikian diungkapkan Tarmizi Daud, penyuluh agama Islam provinsi Aceh, pada
konferensi Rabu (08/04). Konferensi pers itu turut dihadiri sejumlah pendeta
dan penyuluh agama Islam di provinsi Aceh.
Tarmizi
mengatakan penyebar isu tersebut merupakan seorang Mualaf bernama Ilham
Ramadhan Munthe (nama sesuai KTP). Tarmizi menyebutkan Ilham yang sebelumnya
bernama Kristianta Anes Ginting Munthe (nama sebelum Islam) memiliki identitas
yang cukup banyak. Bahkan saat mengisi ceramah di universitas Al-muslim Bireun
ia mengaku bergelar Profesor, padahal hasil penelusuran diketahui Ilham hanya
tamatan SMA.
Dalam
beberapa kesempatan Ilham juga mengaku sebagai orang kaya yang memiliki hotel
di Medan, namun setelah di cek hotel tersebut milik orang Cina.
”Kami
sudah lacak dia selama tiga tahun, ternyata namanya beda-beda, nama di KTP,dan
serrtfikat mualaf juga beda, identitas tahun kelahirannya juga beda-beda, bahwa
dia mengaku Bali, tapi ditempat lain ia mengaku batak,”ujarnya.
Tarmizi
menambahkan pihaknya menilai tindakan Ilham karena ingin terkenal dan mencari
uang semata. Karena sebelum dipercaya untuk mengisi berbagai ceramah ia
diketahui sebagai penjual bakso, sebelumnya dikethui Ilham juga sebagai penjual
obat di Tangse Pidie.
Menurut
Tarmizi, selain mengaku sebagai mantan presiden Misionaris dan mantan pendeta
terbesar di Asia, Ilham juga pernah mengaku sebagai mantan intelijen. Selain
itu pada beberapa kesempatan Ilham dalam ceramahnya juga kerap melarang penggunaan
tupperware karena terbuat dari minyak babi. (radioantero)
Adapun
nama-nama yang diisukan sebelumnya, diangkat menjadi Pendata tersebut yakni, Pendata Hasan
Ibrahim STh, pendeta Zaini, ST,h, pimpinan Gereja sejantera di Medan, Pendeta
Iskandar, ST,h, Pendeta Jafaruddin Adan, sedang mengikuti Kuliah di Sekolah
Tinggi Teologi Abadi Bangsa, Jln Medan Km 10, Pendeta Abdullah ST,h,
Pendeta Jamaluddin, ST,h, Pendeta Zainuddin, ST,h, Pendeta Anwar Ibrahim Puteh,
ST,h, Pendeta Jamaluddin, ST,h, Pendeta Ahmad Mustafa, ST,h, Pendeta Evi
Madalena, Pendeta Rahmi, nama-nama tersebut berasal dari Bupaten Pidie,
sedangkan Pendeta Muhammad Nur, ST,h, berasal dari Aceh Utara dan pendeta Cut
Hardianti, berasal dari kabupaten Bireuen.
Sejak
dua bulan yang lalu, isu kristenisasi kini semakin hangat di Aceh, tak hanya
itupun Pemerintah Aceh diam saja. Padahal meraka berhak mengusutkan siapakah aktor
utama dibalik tersebarnya aliran roh kudus.
Langkah
baru kepemimpinan, dr Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf, pasangan jagoan merah yang
diusung Partai Aceh (PA) pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada tahun 2012
yang lalu. Meski sibuk menyelesaikan masalah Aceh dengan RI, belum tuntas,
mengenai turunnya, UUPA dan RPP Migas, Lambang dan Bendera Aceh juga Qanun Wali
Nanggroe, kini dilema persoalan baru yakni isu penangkalan akidah.
Tak
hanya itupun aliran roh kudus itu mulai tersebar hingga kepolosok-pelosok Desa,
sayangnya Zaini belum mengeluarkan secuil kata-kata manis, untuk mengungkapkan
dibalik tersebar aliran palang salip.
Beranjak
beberapa pekan yang lalu beredar pesan melalui jaringan Henphon seluler
blackberry messenger (BBM), sebanyak 1180
misionaris dikirimkan ke Aceh untuk mengkritenisasikan Warga Aceh. Namun demikian
relawan tenaga roh kudus dibiayai donatur luar negeri juga gajinyapun sangat besar.
Isi
pesan BBM itu, juga meliriskan jumlah tenaga relawan roh kudus di Aceh kini
sedang mengatur strategi untuk menyebarkan aliran roh kudus tak lain agar
Masyarakat Aceh pindah agama masuk ke Agama Kristen.
Diam-diam
mereka telah diutuskan, dibeberapak Kabupaten Kota, sebut saja, Kota Banda
Aceh, Aceh Besar dan Kota Sabang, 170 orang tenaga roh kudus, Kapuaten Pidie
dan Pidie Jaya, 130, Kabupaten Bireuen, 80, Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, 170, Aceh Timur, 80, Aceh Tamiang,
90, Aceh Tengah dan Bener Meriah, 100, Aceh Singkil dan Kota Subulussalam, 50,
Aceh Tenggara, 70, Aceh Selatan, 10, Aceh Barat Daya, 20, Nagan Raya, Aceh
Barat dan Aceh Jaya, 210. Mereka dibekangi berbagai ilmu pengatahuan dan
teologi.
Target
para misionaris itu Aceh, Padang Sidenpuan Sumatra Barat, Banten, Poso, Jawa Barat,
Bugis, dalam waktu tujuh tahun relawan roh kudus itu telah berhasil
membabtiskan lebih kurang 2.107 khususnya Warga Aceh.
Sebelumnya
lima belas orang, warga Aceh kini menjadi Pendata di Medan. Bahkan meraka akan
dikirim ke Aceh untuk membabtiskan Warga Aceh pindah ke Agama Kristen. Mereka
diduga berasal beberapa Kabupaten Aceh Pidie, Aceh Utara dan Bireuen. Meskipun
dekimikian salah satu diantara meraka telah mendapatkan jabatan dan kedudukan
disalah satu geraja ternama di Madan.
Adapun
nama-nama yang diduga kini diangkat Pendata tersebut yakni, Pendata Hasan
Ibrahim STh, pendeta Zaini, ST,h, pimpinan Gereja sejantera di Medan, Pendeta
Iskandar, ST,h, Pendeta Jafaruddin Adan, sedang mengikuti Kuliah di Sekolah
Tinggi Teologi Abadi Bangsa, Jln Medan
Km 10, Pendeta Abdullah ST,h, Pendeta Jamaluddin, ST,h, Pendeta Zainuddin,
ST,h, Pendeta Anwar Ibrahim Puteh, ST,h, Pendeta Jamaluddin, ST,h, Pendeta
Ahmad Mustafa, ST,h, Pendeta Evi Madalena, Pendeta Rahmi, nama-nama tersebut
berasal dari Bupaten Pidie, sedangkan Pendeta Muhammad Nur, ST,h, berasal dari
Aceh Utara dan pendeta Cut Hardianti, berasal dari kabupaten Bireuen.
Modus
mengkristenisasi yang dilakukan oleh para misionaris, baik yang berasal dari
para penganut Kristen, atau pun dari kalangan orang Aceh sendiri, ada pula yang ditugaskan oleh pihak-pihak
tertentu untuk menyebarkan misi Kristen. Selain
itu juga melalui aliran sesat, yang dilakukan oleh orang-orang luar daerah dan
juga masyarakat Aceh.
Upaya
Kristenisasi di Aceh telah berlangsung secara sporadis dalam sepuluh tahun
terakhir, khususnya pasca musibah gempa dan tsunami yang menerjang Aceh pada 26
Desember 2004 lalu. Muhammad AR (2007), dalam bukunya, menceritakan bahwa
ketika gempa bumi melanda Aceh Pada 26 desember 2004, semua organisasi (NGO dan
LSM) dari berbagai belahan dunia datang ke Aceh untuk memberikan bantuan
kemanusiaan. Bahkan, tanpa visa-pun, berbagai lembaga tersebut bisa masuk ke
Aceh dalam masa-masa darurat tersebut.
Berbagai
LSM dan NGO yang datang ke Aceh, memiliki tujuan yang bervariasi. Ada yang
murni ingin membantu dengan alasan kemanusiaan, ada yang hanya ingin melihat
kondisi Aceh yang hancur setelah dihantam tsunami, ada yang bertujuan mencari
keluarga, dan bahkan ada yang datang ke Aceh untuk keperluan misionaris.
Dalam
bukunya, Muhammad AR juga berhasil merekam beberapa bentuk upaya Kristenisasi
yang dilakukan oleh beberapa NGO (LSM), khususnya pasca tsunami Aceh.
Sebagaimana diketahui, bahwa pasca tsunami, khususnya pada masa rekontruksi dan
rehabilitasi, Aceh menjadi tempat berlabuhnya tamu-tamu asing yang datang dari
berbagai negara untuk melaksanakan misi kemanusiaan. Dari sekian tamu-tamu
asing yang datang, bukan tidak mungkin, bahwa sebagian dari mereka datang ke
Aceh khusus untuk membawa misi Kristenisasi.
Di
satu sisi, kita memang harus mengucapkan terima kasih yang amat besar kepada
masyarakat internasional yang telah memberikan bantuannya untuk Aceh pada
saat-saat genting tersebut. Namun di sisi lain, tentunya tidak ada yang gratis
di dunia ini. Setiap ada modal yang dikeluarkan, pasti ada laba (keuntungan)
yang dinanti. Terbongkarnya berbagai upaya Kristenisasi akhir-akhir ini,
tentunya patut dicurigai oleh semua pihak. Bukan tidak mungkin, di sebalik rangkaian
kejadian yang terjadi akhir-akhir ini, ada agenda besar dari para misionaris
yang tentunya sudah dipersiapkan jauh-jauh hari.
Langganan:
Postingan (Atom)
Popular Posts
-
Kisah Riwayat Hidup Abu Ibrahim WaylaAbu Ibrahim Woyla adalah seorang ulama pengembara. Ulama ini dalam masyarakat Aceh lebih dikenal dengan Abu Ibrahim Keramat. Belum pernah...
-
Sejarah Teungku Chik Di Awe GeutahDi Desa Awe Geutah, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, ada rumah adat asli Aceh yang masih berdiri kokoh walau usian...
-
Pajoh RakanSyg that lon pandang layang putoh lam reugam hana le arti syg dek leila hudep meu lang2 karna cut ab cinta geu bagi cukop that ...
-
Ternyata Jari Manis dapat Mengungkapkan Karakter Terpendam dalam DirimuMemiliki keterampilan yang baik saat berkomunikasi dengan pasangan atau orang lain merupakan hal yang baik. Sekarang waktunya kita ungkap...
-
Hikayat Calitra Ticem Hud-Hud Nabi SulaimanDeungoe Lon sebut bacut calitra, Cicem jroh rupa nyang po Sulaiman. Nyan cicem HUD-HUD gesebut nama, Cit troh that mata nebri le ...
-
Kerangka Diduga Milik Nabi Nuh DitemukanPara staf di Penn Museum, Philadelphia menemukan sebuah kotak kayu berisi kerangka manusia berusia 6.500 tahun. Kotak kayu itu telah t...






